Thursday, January 26, 2012

#15HariNgeblogFF

Sekadar testimoni untuk #15HariNgeblogFF

Wenny Wardila..
Bukan nama yang familiar di kalangan blogger yang udah berabad-abad hobi ngeblog. hehehehe.. Tapi dari SMP gue udah mulai hobi nulis mengingat kebiasaan 'ngautis' gue di rumah.. Nulis buat gue sebatas media untuk menyalurkan imajinasi gue, kekesalan gue, kesenangan gue.. Itu aja. :) Makanya sebisa mungkin gue nyembunyiin tulisan gue di blog ini dari orang-orang yang gue kenal. Enggak pede! Tapi blog gue keendus juga sama seorang penulis buku yang bilang tulisan gue cukup menarik. Disuruh ikut nulisbuku club juga. *tapi sampai saat ini ga pede jadi bagian dari calon/penulis-penulis hebat.* :p akhirnya gue cuma diem-diem nge-follow twitternya sampai suatu hari ngeliat promosi #15HariNgeblogFF di sana. Dengan semangat seorang lulusan D3 Bahasa Inggris Universitas Padjadjaran yang masih menganggur (#njleb) gue pikir seru juga ngisi waktu luang daripada bosen sama karya tulis gue yang ditolak mulu sama perusahaan-perusahaan (baca: surat lamaran.) Akhirnyaaaaaaa.. dengan tekat dan nekat gue ikut juga #15HariNgeblogFF. :)

Niat awal gue MASIH tetep pengen nyembunyiin keberadaan blog gue ini. Karena kalau udah tersebar, gue enggak punya tempat curhat pribadi lagi. :( Makanya gue pake Tumblr gue. Tapi hari ketiga ada juga yang protes bahwa FF gue enggak bisa dikomen. Gue otak-atik otak atik otak atik.. #dasarkatro tetap enggak nemu caranya supaya orang bisa ninggalin komentar. Dengan sangat terpaksa.. Akhirnya gue publikasikan juga keberadaan blog gue yang ini.

Awalnya ikutan acara ini sebatas pengen nyalurin hobi. Tapi begitu ada yang berkomentar, semangat menulis semakin menggebu! Meskipun rada minder ngeliat hasil tulisan peserta lainnya, tapi itu enggak mematahkan semangat. Malah banyak belajar juga dari peserta lain. Dan nambah semangat untuk belajar menulis yang lebih baik. Ya, meskipun tulisan gue enggak sebagus yang lain, sangat senang mendapat perhatian dan komentar dari peserta lain.

Jadi iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiintinyah!
Ikutan #15HariNgeblogFF ini
1. Bikin percaya diri untuk nulis dan memublikasikannya ke orang-orang, sebanyak-banyaknya. :D
2. Dapat banyak pelajaran dari peserta lain yang ternyata banyak juga yang udah nerbitin buku. :O
3. Punya motto baru "no days without writing". ;)
4. Dipaksa mikir kreatif setiap hari. ;p
5. Punya temen" baru yang seru dan jago nulis! :*

Apalagi ya???? Banyak!! Yang jelas, sedikitpun enggak nyesel ikutan #15HariNgeblogFF.
Semoga tulisan gue lebih bagus lagi nantinya, dan bener-bener bisa ngehasilin sebuah buku, bahkan lebih. :)

Special thanks to @momo_DM dan @WangiMS. Ide mereka sangat brilian! Mereka punya jasa besar buat banyak calon penulis baru (AMIIIIIIIIIIIIIN!)

Akhir kata....
\(n,n)/ /(u'u)\ \(n,n)/ << #jungkirbalikgirang :) It's nice to be a part of this event..

Kiss kiss,
Wenny Wardila
@WEIRDilawenny <== ehem, boleh difollow. double 'n' pake 'y' yah.. =))

Wednesday, January 25, 2012

Ini Bukan Judul Terakhir..

Picture: weheartit


“Selamat pagi.Terima kasih kamu sudah berkenan mendengarkan CD kirimanku minggu ini. Ini CD ke empat belas ya? Berarti sudah tiga belas kali aku bernyanyi untukmu. Hari ini adalah lagu ke empat belas yang akan kunyanyikan dengan gitarku. Lagi-lagi karena aku tahu kamu sangat suka suara gitar. Hari ini aku akan menyanyikan lagu milik Glen Hansard dan Marketa Irglova, Falling Slowly. Aku harap kamu suka.”

Ia memetik gitarnya lalu mulai bernyanyi. Suara yang sangat merdu bagai depresan yang selalu berhasil menenangkanku. Kuakui suaranya sudah menjadi favoritku semenjak pertama kali ia mengirimkan CD pertama dari keempatbelas CD yang sudah kuterima. Namun sayangnya aku belum tahu siapa pengirimnya.

“Apa kamu suka? Oh iya, ini bukan judul terakhir. Masih ada judul lagu lainnya yang akan kunyanyikan untukmu. Semoga kedatangan CD dariku akan kamu tunggu.”

‘Ini bukan judul terakhir,’ itulah yang selalu ia ucapkan di setiap penutup rekaman suaranya. Entah mulai kapan aku mulai menunggu-nunggunya setiap minggu, meskipun awalnya aku merasa sedang dikagumi seorang pengidap sakit jiwa. Aku tak tahu apa maksudnya bernyanyi untukku, yang jelas aku cukup senang mengetahui ada lelaki yang begitu memerhatikanku.

“Sekarang itu jamannya iPod, lha kamu masih pakai begituan,” protes kakakku yang tiba-tiba saja sudah kembali dari toilet bandara.

“Hari ini aja lagi butuh.” Aku menunjukkan CD player portable-ku itu sebelum memasukkannya ke dalam tas.

“Siapa sih yang sering ngirimin kamu CD-CD itu?” tanya Mas Alde membuatku risi.

Aku menggaruk kepalaku meskipun tak terasa gatal, bingung harus menjawab apa. Aku sendiri tak tahu jawabannya. Akhirnya semua hanya berujung keheningan beberapa menit.

“Sudah waktunya aku masuk, Nis. Kamu enggak apa-apa kan nyetir mobil sendiri?”

“Santai, Mas. Toh bukan hari ini saja aku nyetir mobil.” Aku mengambil paksa kunci mobil dari tangan Mas Alde.

“Hati-hati, lho.”

“Mas juga hati-hati.”

Mas Alde meninggalkanku begitu saja karena sudah cukup kami bersedih-sedihan di rumah tadi bersama Ayah dan Ibu. Setelah ia menghilang dari pandangan mataku, aku pun bergegas menuju parkiran mobil. Sepi juga rasanya pulang ke rumah sementara saat pergi tadi suasana di mobil begitu penuh dengan celotehan Mas Alde. Kini ia sudah bersiap berangkat menuju negara tempat ia menuntut ilmu demi gelar S1-nya yang sempat tertunda.

“Ah, apa itu?” gumamku pada diri sendiri ketika melihat bungkusan aneh di atas jok penumpang mobil Mas Alde. Bungkusan yang sangat kukenal. Ini kan bungkusan yang selalu dipakai si pengirim CD untuk mengirim CD-CD-nya. Kertas polos berwarna silver dan pita biru tua. Mengapa bisa ada di sini?

Aku mengeluarkan CD player portable-ku lagi dan mendengarkan CD itu untuk menjawab pertanyaan yang berakar dan berbuah cepat di kepalaku.

“Danis sayang, maaf, aku tahu aku salah sudah melakukan kegilaan ini selama belasan minggu. Menyanyikan semua lagu kesukaanmu dengan harapan bahwa semuanya akan berubah. Aku salah telah membuatmu berharap bahwa ada seseorang yang mungkin bisa menjadi kekasihmu. Aku akan menghentikannya. Karena aku tahu semenjak dua minggu lalu ayahmu menikahi ibuku, kita sudah tidak mungkin menjadi satu. Kali ini ucapanku akan sedikit berbeda. Lagu kali ini benar-benar judul terakhir. Salam sayang, Alde, kakak tirimu.”

[THE END]

Bandung, 25 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day14

I would love to hear ur comments. :)

Tuesday, January 24, 2012

Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta..

Picture: weheartit


GARA-GARA odol hidupku malam ini berujung lari marathon sekian blok bersama seorang lelaki tak dikenal.

Odol di rumah sudah habis tadi pagi, dan aku paling tidak bisa tidur sebelum menyikat gigi. Alhasil aku nekat berjalan kaki ke minimarket 24 jam tak jauh dari rumah pada pukul sepuluh malam. Hanya 20 meter menuju pulang ke rumah tiba-tiba saja seorang lelaki menyusul langkahku dengan sangat tergesa-gesa. Ia terhenti sejenak, melihat lima orang yang mengejarnya di belakangku lalu kembali, menarik tanganku, dan!!!

Inilah kami. Tak terlalu jauh juga dari rumahku, namun sungguh, baru sekali ini aku mengetahui bahwa ada tempat seindah ini. Melihat pemandangan kota pada malam hari yang dingin. Inilah tempat persembunyian kami. What an awkward moment. Duduk bersebelahan dengan lelaki yang tidak aku kenal sama sekali. Tapi entah kenapa aku merasa dia lelaki baik. Sorot matanya jujur saat mengatakan alasan ia dikejar-kejar lima orang tadi juga alasan ia menarikku bersamanya.

“Mereka orang jahat. Gue khawatir aja ngeliat lo jalan sendirian malam-malam. Yang ada bukannya lanjut ngejar gue, mereka malah macam-macam sama lo,” ujarnya menatap mataku damai.

Subhanallah sekali memang lelaki yang nampaknya hanya dua tahun lebih tua dariku ini. Putih, tinggi, tampan, baik pula. Aku sangat menyukai caranya menatap mataku. Ibarat odol rasa menthol, menyejukkan! Bikin pengen nyengir kuda sepanjang hari.

Setengah jam duduk termenung di tempat yang indah dengannya ternyata terasa cepat. Demi alasan keamanan dia mengantarku pulang sampai muka rumah. Selesai sudah pertemuanku dengan si… Ah, aku lupa bertanya namanya. Tatapan mata ala odol rasa mentholnya masih teringat jelas. Batal sudah rencanaku tidur. Aku hanya menyalakan televisi namun tebak saja otakku ada di mana.

Tok.. tok.. tok..

Jam setengah dua belas malam. Ini bukan adegan film horor kan? Aku memberanikan diri mengintip di sela-sela jendela. Lelaki tadi. Ada urusan apa dia kembali ke sini? Aku enggan membukakan pintu untuknya meski dugaan awalku ia adalah lelaki baik-baik, sampai aku melihat sebuah benda di tangan kanannya. Odolku!

“Seingat gue lo enggak bawa ini pas pulang. Makanya gue balik ke tempat tadi dan nyari ini. Benar kan, ketinggalan,” katanya lalu menyodorkan kotak odol tanpa kantong plastikku demi alasan pemanasan global.

“Terima kasih,” ucapku yang hanya dibalas dengan senyum sesegar daun mint dalam odolku dan pergi.

Aku menatap odol di tanganku yang menjadi penyebab tragedi malam ini. Odol. Kalau odol lagi jatuh cinta pasti satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanya melindungi gigi-gigi yang dicintainya dari godaan kuman-kuman jahat dan lubang tak kasat mata. Sama kayak… si mas odol yang melindungiku itu. Dia sudah melindungiku dari preman-preman jahat tadi, tapi apa ia juga akan mencegah lubang di hatiku semakin menganga lebar? Yang pasti, kalau si odol tadi lagi merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama denganku, minimal sebentar lagi juga ia akan kembali ke sini dan menanyakan namaku supaya hatiku tidak berlubang.

“Hey, Nona, ngomong-ngomong nama lo siapa?”

[THE END]

Bandung, 24 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day13

leave ur comments.. ;)

Monday, January 23, 2012

Merindukanmu itu Seru..

Picture: weheartit


AKU ketakutan melihat bayangan di cermin toilet resto ini. Bibirnya membentuk seringai dengan tatapan yang nanar. Gigi atas dan bawah ditabrak-tabrakkan berulang kali sampai terasa akan rontok tak tersisa. Iya, aku tahu wajahku begitu menyeramkan saat ini. Ekspresi apa lagi yang bisa kubuat setelah mendengar perkataan Dani?

“Menikah, yuk,” ucap kekasihku itu di sela-sela mulut yang penuh dengan hidangan utama makan malamnya disertai ekspresi datar seperti anak tiga tahun yang mengajakku bermain petak umpet.

Aku berteriak tanpa suara, mengeluarkan semua urat di wajahku. Apa Dani tidak tahu bahwa setiap wanita mengharapkan prosesi lamaran yang romantis? Dani adalah lulusan jurusan sastra Indonesia dengan IPK 3,9 dan pemenang lomba puisi puluhan kali. Tak bisakah ia membacakan puisi karangannya? Aku jadi ingat ketika aku memintanya membuatkanku puisi. Ia hanya mengirimkan sebaris kalimat melalui ponselnya..

Merindukanmu itu seru..

Kenapa kata ‘seru’ yang ia pilih untuk mengutarakan rasa rindunya? Dani pacarku ini benar-benar bukan Dani Satrio Aji yang hasil karyanya sering kubaca. Sama sekali tidak romantis.

Setelah kuredam amarahku, aku merapikan penampilanku lagi, keluar dari toilet seolah tidak terjadi apa-apa. Dani masih konsentrasi dengan tenderloin steak-nya. Aku saja sudah kehabisan selera makan sejak mendengar ajakannya tadi.

Aku duduk bersandar dan memandang keadaan sekitar. Resto ini begitu ramai malam ini. Sepertinya tempat ini akan disulap menjadi sebuah tempat perkumpulan.

“Cepat habiskan makannya! Sebentar lagi acaranya dimulai!” Dani meletakkan garpu dan pisaunya.

“Acara apa?”

“Kita datang ke sini untuk acara itu.” Dani menunjuk keramaian di sudut sana dengan gerakan dagunya.

Otomatis mataku mengikuti gerak dagu Dani. Ada spanduk besar, namun keterbatasan mataku membuat aku kesulitan membaca tulisan pada spanduk di kejauhan itu. Resto ini begitu luas dan aku duduk di sudut lain dari tempat berjalannya acara itu. Aku mengambil kacamata minusku dari dalam tas.

“Peluncuran buku perdana Dani Satrio Aji,” bacaku dengan suara. Baru saja aku akan protes karena Dani tak pernah memberitahuku tentang penulisan bukunya itu, mulutku sudah terbungkam dengan judul buku yang tertera di spanduk itu. ‘Merindukanmu itu Seru.’

Dani sudah ada di belakangku, melingkarkan lengan kirinya di bahuku dan tangan kanannya menunjukkan sebuah buku dengan judul yang baru saja kubaca di spanduk tadi. Sampul buku itu adalah sketsa punggung seorang wanita dengan pakaian yang sangat aku kenal. Itu aku.

“Kamu minta aku membuatkan satu puisi tentangmu bukan? Maaf, aku enggak bisa merangkum semua tentang kamu menjadi satu puisi aja. Makanya aku membuat seratus puisi di dalam buku ini. Untuk kamu.”

Aku mengambil buku itu dari tangan Dani. Dani memberi isyarat agar aku membuka kertas sampulnya dan saat kubuka, ternyata ada sedikit bagian tengah buku itu yang telah Dani lubangi untuk meletakkan sebuah cincin emas putih.

“Merindukanmu itu seru, tapi aku enggak mau terus-terusan merindukanmu. Apa kamu mau tinggal di rumah yang sama dengan aku, menikah denganku, supaya aku enggak perlu terlalu lama merindukanmu, Viska Trisna Dewi?”

Hatiku dibanjiri perasaan haru yang meluap melalui kedua mataku. Aku bahagia. Terlalu bahagia. Dani yang kukira tidak pernah bisa romantis ternyata telah melakukan banyak hal untukku. Aku mau, Dan. Aku mau menikah denganmu..


[THE END]

Bandung, 23 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day12

Sumpah enggak percaya diri banget sama FF kali ini.. (T_T) Tapi komentarnya tetap saya tunggu. Terima kasih sudah baca. (._.)

Sunday, January 22, 2012

Tentangmu yang Selalu Manis..

Picture: weheartit


FIAN datang lagi hari ini. Matahari saja kalah semangat darinya, menyeret langkah pelan-pelan, bersembunyi dibalik awan. Pagi yang tidak begitu cerah. Ia datang begitu pagi dengan semangatnya yang menyala lebih terik, terlihat jelas di wajahnya yang tak pernah melunturkan senyum itu. Masih senyum yang sama seperti hari-hari yang lalu.

“Selamat pagi, Mel.” Ia bangkit saat melihatku keluar menemuinya di teras rumah.

Aku hanya tersenyum canggung untuk membalas semangatnya. Fian menarik kursi di hadapannya untukku. Membiarkan aku duduk lalu kembali ke posisinya semula saat menungguku bersiap.

“Gimana kabar kamu hari ini?”

“Masih sama seperti kemarin.”

“Hari ini aku bawa ini.” Fian menggeser album foto berukuran besar dan tebal itu ke hadapanku. Mungkin album itu dapat memuat seratus foto lebih.

Kubuka lembar demi lembar album itu. Foto kami, aku dan Fian. Fian belum pernah menunjukkan semua ini kepadaku sebelumnya. Aku tak menyangka ternyata begitu banyak kenangan antara aku dan dia. Sebanyak inikah foto yang telah ia abadikan? Aku bahkan tak menyadarinya. Sama tak sadarnya ketika mataku meneteskan air yang terasa hangat melintasi pipiku.

Fian segera bangkit dan berlutut di sampingku, menghapus air mataku. “Jangan nangis, Mel. Aku nunjukin semua ini karena aku mau kamu tahu bahwa aku sangat-sangat mencintai kamu. Aku pengen kita kembali kayak dulu. Aku enggak sanggup kalau kamu terus menghindar dari aku, menganggap aku ini orang lain. Aku mohon maafin aku, Mel atas kesalahan aku dulu.”

Tangisku semakin menjadi. “Aku enggak bisa, Fian. Ini semua sulit buat aku. Aku berusaha tapi semuanya terlalu sulit.”

Aku menatap wajah Fian. Ia tersenyum getir. Aku tahu bukan hanya aku yang sakit menerima kenyataan ini. Aku tahu Fian sangat mencintaiku, hanya saja aku masih tidak bisa, tidak sanggup.

Fian bangkit, membelai rambutku begitu lembut. Aku semakin yakin bahwa Fian sangat mencintaiku. “Enggak peduli berapa lama, Mel. Aku bakalan nunggu kamu kembali sama aku. Aku benar-benar minta maaf atas kesalahan itu.”

Fian menghapus air mataku sekali lagi dan memaksaku memberinya sedikit senyum sebelum akhirnya pergi bekerja. Setiap hari ia memang hanya bisa menemuiku sebelum berangkat ke kantor dan sepulang dari sana, sebelum aku terlelap.

Aku menutup album foto yang Fian tinggalkan itu. Kubaca lagi tulisan yang ia ukir di atasnya.

Tentangmu yang selalu manis. Melia-Alfian.’

Kupeluk album foto itu erat di dadaku dan kembali menangis. Semakin erat kupeluk semakin besar pula harapanku untuk mengingat semuanya. Terima kasih kamu begitu sabar, Fian. Terima kasih kamu begitu sabar menunggu ingatanku pulih akibat kecelakaan satu tahun lalu saat kita berdua melaju dengan mobilmu menuju tempat liburan kita.

[THE END]

Bandung, 22 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day11

Terima kasih sudah membaca.. :) Ditunggu lho komentarnya. :D

Saturday, January 21, 2012

Senyum Untukmu yang Lucu..

Picture: weheartit


TIRAI terbuka. Ia berdiri di depan cermin berukuran besar, lebih besar dari tubuhnya. Memutar tubuhnya berulang-ulang sambil memulas senyum terbaik untuk melihat bayang dirinya dari berbagai sudut. Aku menunggunya di luar ruang ganti yang sempit itu. Kebaya sewarna bunga lilac lah yang kali ini dicobanya dengan kemungkinan menjadi pilihan untuk hari penting nanti.

“Lucu ndak, Mas?” tanyanya padaku yang setia menunggunya sejak tadi.

Aku menjawab dengan sebuah senyuman yang damai dan mata yang terlihat begitu mengaguminya. Penuh intrik dan sedikit menggelitik.

“Maaaaaas.. Ini buat hari pentingku, lho! Masa cuma senyum saja. Aku butuh pendapat," rengeknya sangat manja dengan bibir yang dikerucutkan dan aksen Jawa yang kental.

“Lho, piye toh? Ini senyum bukan sembarang senyum. Ini senyum khusus untukmu yang lucu. Spesial! Cuuuuuantik tenan pakai kebaya yang ini. Paling ayu dibanding kebaya-kebaya sebelumnya.” Aku mengacungkan dua jempol tanganku dengan sedikit kedipan mata nakal agar lebih meyakinkannya.

“Ah, Mas bisa saja!” Pipinya terlihat merona mendapatkan pujian dariku. “Wes! Kalau begitu aku sewa yang ini saja untuk wisudaku.”

“Nah itu! Pilihan yang bagus! Ta’ bungkusin kalau begitu!”

Ia menutup tirai ruang ganti pakaian itu lagi. Syukurlah si gendut yang mirip lontong dibungkus daun pisang beracun ungu itu akhirnya memilih kebayanya juga. Bosan sudah aku melihatnya lima kali berganti kebaya di tempat penyewaan tempatku bekerja. Pelanggan ke tiga yang termakan senyum mautku hari ini.

[THE END]


Bandung, 21 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day10

Thank you for the attention. Please leave ur comment. ;)

Friday, January 20, 2012

Inilah Aku, Tanpamu..

Picture: weheartit


ENTAH berapa kali aku berganti pakaian hari ini, membiarkan penata rias terbaik di kota ini memoles wajahku dengan sempurna, lalu berjalan di atas catwalk berulang kali. Tidak ada kesalahan. Acara berawal sempurna, berjalan sempurna, berakhir sempurna. Berhenti panggil aku Ratu jika semua yang kulakukan tidak berjalan dengan sempurna. They say 'perfect' is my middle name.

Aku masih duduk di ruang rias tempat pelaksanaan fashion week tadi, mengagumi bayangan dalam cermin yang dikelilingi bola-bola lampu kuning pucat di hadapanku. Bagian mana yang tidak bisa membuat lelaki bertekuk lutut? Lihat saja puluhan buket bunga yang menghiasi tempat sampahku hari ini dan hari-hari sebelumnya.

Aku memutar sebuah lagu dari iPod-ku. Lagu yang selalu mengingatkanku pada satu nama. Pandanganku beralih pada cincin mungil di jari manis tangan kiriku. Aku melepasnya untuk melihat sebuah nama di balik cincin itu.

"Jadi ketemu Ricky hari ini, Queeny sayang?" tanya Cantika, teman satu profesiku, sambil melihat cincin yang kupegang itu.

Aku tersenyum senang. "Sesuai rencana."

♥♥♥

Sangat sesuai rencana. Aku dan Ricky saat ini berada di sebuah resto paling romantis di kota ini. Ricky tahu aku selalu ingin yang terbaik. Ricky masih sosok yang begitu sempurna seperti lima tahun lalu. Tampan dan kaya. Kurasa kami berdua sangat serasi. Hal itu pula yang membuat Ricky begitu percaya diri berlutut di hadapanku, memohon aku kembali.

Ricky bicara dengan sangat halus ditemani sinar lilin yang menerangi tempat ini. Hanya ada kami berdua serta seorang musisi yang memainkan biolanya dengan handal karena Ricky memesan seisi restoran.

"Aku bahagia, Ky," bisikku di telinganya, membungkuk agar badanku sejajar dengannya.

Kebahagiaanku semakin sempurna ketika Ricky memeluk tubuhku, "Terima kasih kamu mau nerima aku lagi, Ratu."

Senyumku berubah menjadi seringai. "Di bagian mana aku berkata aku mau kembali kepada kamu?"

Ricky melepas pelukannya dengan mata terbelalak. "Maksud kamu?"

"Aku bahagia karena rencanaku selama lima tahun berakhir sempurna." Aku melepas cincinku lagi, memain-mainkannya dengan jari-jariku tepat di hadapan wajah Ricky. "Ini cincin yang kamu kasih lima tahun lalu. Tetap kupakai meski kamu sudah membuangku satu minggu setelah kamu bilang kamu menerima cintaku, dua hari setelah kamu memberiku cincin murahan ini."

Wajah Ricky berubah pucat pasi dan sekujur tubuhnya gemetar terbakar emosi.

"Dulu aku yang begitu mengejarmu. Sampai akhirnya aku tahu aku hanya gadis kampung bodoh dan jelek yang kamu jadikan bahan taruhan dengan temanmu. Cincin ini ternyata bukan tanda cinta, melainkan alat agar kau bisa meniduriku lalu pergi. Ini rencanaku. Tetap memakai cincin ini agar kamu yakin bahwa aku masih mengharapkanmu, lalu membuatmu berlutut di hadapanku seperti yang aku lakukan untukmu dulu."

Aku bangkit, Ricky masih membeku di atas lututnya. Aku jatuhkan cincin bertuliskan namanya itu ke lantai tepat di hadapannya.

"Inilah aku, tanpamu. Kepergian kamu membuatku belajar menjadi aku yang sekarang. Aku bukan boneka bodohmu lagi."

Aku meninggalkan Ricky. Tidak ada lagi. Tidak ada lagi lelaki yang berhak menyentuhku. Aku berhasil, Sayang. Kusentuh lembut tattoo kecil di pergelangan tangan kiriku bertuliskan 'Cantika.' Aku mengeluarkan iPod-ku dari dalam tas. Kudengar lagi lagu yang selalu mengingatkanku pada Ricky untuk terakhir kalinya. Alicia Keys - Karma.

[THE END]

Bandung, 20 Januari 2012
#15HariNgeblogFF #Day9

Terimakasih sudah membaca. Tinggalkan komentar juga, ya. ;)

Thursday, January 19, 2012

Aku Benci Kamu Hari Ini..

Picture: weheartit


♥ Day 30..

Aku benci kamu hari ini..

Aku harap ini hari terakhir aku menyumpah dengan mulut tertutup rapat. Karena seingatku sudah setiap hari dalam satu bulan terakhir aku berucap seperti itu. Iya, setiap hari. Berarti bukan hari ini saja aku membencimu. Sudah banyak hari berganti. Satu bulan, tiga puluh hari, tujuh ratus dua puluh jam, aku membencimu.

Setiap hari aku hanya bisa duduk menunggu kabarmu, melihat layar ponselku setiap lima menit sekali, memastikan telinga ini tidak tuli, tidak mendengar ringtone ponselku sendiri, saking kosongnya pikiranku. Kosong? Ah, mana mungkin pikiranku kosong? Setiap detik kamu menjadi syair di otakku.

Dulu kamu bilang hanya aku yang bisa membuatmu tertawa, tapi aku tahu belakangan ini kamu tertawa-tawa di sana, bukan karenaku. Memiliki teman-teman yang lebih menyenangkan daripada aku yang menjengkelkan ini.

♥ Day 31..

Aku benci kamu hari ini..

Aku harap kemarin akan jadi hari terakhir aku berkata demikian dengan beberapa tetes air mata sebagai hidangan pelengkap kebencianku. Tapi, ternyata bukan. Hari ini aku masih membencimu sama seperti kemarin. Satu bulan, tiga puluh satu hari, tujuh ratus empat puluh empat jam, aku membencimu.

Kamu bilang hari ini kamu akan menemuiku, menjadi obat atas kerinduanku yang kupandang mulai usang berdebu, termakan karat, bahkan mulai ditumbuhi jamur dan sedikit lumut. ‘Aku tidak jadi datang hari ini..’ tulismu dalam bentuk pesan singkat ketika aku sudah bersiap di muka pintu rumahku. Menyambutmu dengan riasan terbaikku. Memoles wajahku hampir satu jam di depan cermin muram yang kini menertawakanku dari balik dinding kamar. Terdiam sangat lama di depan lemari pakaian, memilih sandang tercantik hanya untuk terlihat ayu di matamu. Aku sudah siap menyambutmu, tapi kamu tak datang dengan alasan yang sama.

♥ Day 32..

Aku benci kamu hari ini..
Dan aku benci diriku hari ini..
Sama seperti hari-hari sebelumnya.

Aku benci menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang perempuan yang penuh kepalsuan. Sudah kubilang berjuta-juta kali, aku benci kamu, Gilang. Sejak kita lulus SMA dan diterima di universitas yang berbeda, kamu semakin jauh dariku, sedikit melupakanku yang selalu kamu manjakan dulu. Kita menjadi jauh. Aku tahu ini bukan salahmu. Hanya aku yang terlalu pencemburu. Atas dasar itu pula aku sangat membenci diriku sendiri. Mengapa aku begitu pintar bersandiwara? Berkata benci di dalam hati, namun yang terucap hanya…

“Aku sayang kamu, Lang. Terima kasih untuk hari ini.”

“Aku juga sayang kamu, Kanditha. Terima kasih karena kamu bisa ngerti kesibukan aku di kampus selama ini.”

[THE END]


Bandung, 19 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day8

Terima kasih udah baca.. \(n,n)/ FYI, I ♥ comments. ;)

Tuesday, January 17, 2012

Ada Dia di Matamu.

Picture: weheartit


Bosan membidik setiap ruas pemandangan yang terhampar di hadapanku, kucari sosok Dega melalui viewfinder kamera DSLR-ku. Bukankah memang Dega yang menjadi tujuanku mengeluarkan kameraku? Bodoh, Dega lebih indah dari objek manapun yang pernah kubidik

Aku menemukannya, tiga langkah di sampingku. Semburat cahaya pagi ikut mengagumi wajahnya. Kulihat matanya tertuju ke bawah, seolah mengamati hilir-mudik kendaraan di sana, jalan raya yang cukup padat, bising, dan bau asap knalpot, padahal aku tahu tatapannya kosong belaka.

Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Lima..

Terus kuabadikan wajah yang hanya terlihat satu sisinya saja itu. Lima foto, satu ekspresi, sama. Apa Dega baru saja mati berdiri? Takut ketinggian karena berdiri di balkon apartemen baruku yang ada di lantai 8 ini? Aku melangkah mendekatinya. Dega masih membatu.

"Pergilah."

Akhirnya detak jantung dan denyut nadi Dega seolah kembali ke dalam tubuh matinya. Ia menoleh ke arahku kemudian memasang tatapan 'sejak kapan kamu berdiri di sampingku?' "Ap—apa, Grid?"

"Aku yakin kamu denger."

"Pergi?"

Aku tak yakin apa aku harus mengulangnya. Jujur aku tak mau Dega pergi sementara aku tahu Dega bukan tipikal pacar yang bisa mengerti apa yang aku mau jika tak kukatakan. Jika kubilang 'pergi' Dega pasti pergi. Buatnya, aku tak lebih penting dari dia, dia yang kulihat dalam binar matanya saat ini.

Dega meletakkan tangan kanannya di kepalaku. Perlahan ia usap rambutku yang bergelombang. Aku enggan menatap mata hitamnya. Aku tahu itu hanya akan membuatku kesulitan berkata-kata.

"Kamu enggak di sini. Buat apa tetap di sini?"

"Enggak gitu, Inggrid. Aku mau sama kamu."

"Ada dia di matamu." gumamku lirih.

"Dia? Siapa?"

"Bukan pertama kalinya kita bicara tentang dia. Alasan kamu lebih betah di kantor daripada sama aku. Aku baru pindah ke apartemen baru, Ga. Aku mau ngerayainnya satu hari aja sama kamu."

Dega menunduk. Tangan kanannya kini meraih tanganku, mencium jari-jari kecilku yang terasa hangat ketika tersentuh bibirnya. "I love you."

"Kamu selalu bilang gitu dalam keadaan seperti ini. What do you want me to say? I love you too? I'm broken."

Seketika jantungku terasa dihujam setelah berhasil mengucapkan kata terakhir dengan nafas yang hampir terputus emosi. Dega, nyawanya seolah pergi lagi. Diam, dingin.

Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik.. Empat detik.. Lima detik..

"Satu jam lagi aku balik ke sini ya."

Setelah dihujam, kini jantungku dibom atom menjadi debu. Apa kubilang, Dega tak mengerti hati perempuannya. Aku bingung harus berkata apa. Inikah perempuan? Selalu mengatakan kebohongan. Berkata 'pergi' meski hati berkata 'tinggallah di sini.'

Kebohongan besar hari ini baru saja terjadi. Aku mengangguk.

Dega tersenyum. Senyum pertamanya hari ini. Dia. Dia lebih lihai dalam hal melukis senyum di wajah Dega daripada aku.

"Aku pasti kembali," katanya lalu mengecup keningku dan pergi.

Kalimat itu sangat familiar karena selalu ia ucapkan sebelum meninggalkanku dan berujung pada ingkar. Dega takkan kembali hari ini. Kulihat lagi foto-foto Dega yang kubidik tadi ketika satu-satunya temanku hanyalah kesendirian.

"Ada DIA di matamu." Air mataku perlahan menetes. Setelah tiga minggu tak bertemu Dega, apa hanya ini waktu yang ia miliki?

Kamu. Seandainya saja Dega bukan cinta matiku, takkan kubiarkan aku dinomorduakan karenamu, UANG!!!


Bandung, 17 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day6

Enjoy! I appreciate ur comment. ;)

Monday, January 16, 2012

"Jadilah milikku, mau?"



Kota yang diselimuti embun dingin ini masih setengah gelap. Setelah mendung semalaman, hujan baru tiba menyentuh kulit bumi lima belas menit yang lalu. Mungkin matahari sudah mengintip di ujung sana, namun awan gelap seolah menghalanginya agar tidak melihat kejadian tragis yang baru saja terjadi. Polisi berada di kerumunan paling depan. Penduduk sekitar yang bahkan belum menyentuh kamar mandi pagi ini sudah berkerumun dengan pakaian tidur masing-masing, membentuk sedikit lautan payung berwarna-warni.

Aku melihat sekitar. Benar saja, hanya aku dan Julian yang berpakaian rapi sehabis pesta tadi malam. Kuayun kakiku yang berhiaskan pumps shoes berwarna merah itu. Warna kesukaan Julian. Tangan kanannya menggenggam erat tanganku yang begitu dingin semantara tangan kirinya menaungi tubuh kami dengan payung berwarna hitam. Aku menolak untuk melihat lebih dekat apa yang ada di sana, tapi Julian memaksaku.

"Semua akan baik-baik saja, Tisya," bisik Julian meyakinkanku.

Kami kembali berjalan menembus kerumunan, berusaha melihat apa yang terjadi dengan lebih dekat lagi. Setibanya di depan, aku terdiam sesaat. Begitu malang nasib tubuh-tubuh tak bernyawa itu. Aku mendengar percakapan orang-orang disekitarku. Mereka melompat dari atap gedung setinggi 30 lantai di hadapan kami ini. Usia mereka sekitar 22-24 tahun. Masih sangat muda.

"Boleh aku mendekat?" tanyaku pada Julian. Kini aku justru penasaran.

Julian tak menjawab. Ia langsung menarik tanganku untuk melangkah lebih dekat. Polisi yang ada di sana tak menghalangi kami seperti mereka menghalangi yang lain. Darah yang bercampur dengan air hujan berceceran dimana-mana. Aku tak peduli kini sepatuku berlapiskan darah segar, aku terus mendekat sampai Julian menghentikan langkahnya. Ia melepaskan tanganku dan merangkulku erat. Angin berhembus kencang meniup gaun pendek hitamku yang senada dengan jas Julian. Terlalu muda. Tragis.

"Ayo." Julian membawaku keluar lagi dari kerumunan.

Hujan semakin deras. Kami terus melangkah menjauh. Tiba-tiba saja Julian menghentikan langkahnya kembali. Aku menatap matanya dalam-dalam. Kami berdiri berhadapan.

"Apa kamu mencintai aku?"

Aku mengangkat kedua ujung bibirku yang masih tertutup sempurna oleh lipstik merah menyala lalu mengangguk perlahan.

"Biarpun orang tua kamu enggak setuju sama hubungan kita?"

"Iya," jawabku yakin.

"Jadilah milikku, mau?" Ulang Julian.

Aku begitu bahagia mendengar Julian mengulangnya. Iya, Julian mengulang kalimat yang ia ucapkan tadi malam, sebelum akhirnya kami menutup pesta terakhir kami di atap gedung setinggi 30 lantai itu dengan melompat bersama.


Bandung, 16 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day5
Please, leave your comment.. :)