Picture: weheartit
ENTAH berapa kali aku berganti pakaian hari ini, membiarkan penata rias terbaik di kota ini memoles wajahku dengan sempurna, lalu berjalan di atas catwalk berulang kali. Tidak ada kesalahan. Acara berawal sempurna, berjalan sempurna, berakhir sempurna. Berhenti panggil aku Ratu jika semua yang kulakukan tidak berjalan dengan sempurna. They say 'perfect' is my middle name.
Aku masih duduk di ruang rias tempat pelaksanaan fashion week tadi, mengagumi bayangan dalam cermin yang dikelilingi bola-bola lampu kuning pucat di hadapanku. Bagian mana yang tidak bisa membuat lelaki bertekuk lutut? Lihat saja puluhan buket bunga yang menghiasi tempat sampahku hari ini dan hari-hari sebelumnya.
Aku memutar sebuah lagu dari iPod-ku. Lagu yang selalu mengingatkanku pada satu nama. Pandanganku beralih pada cincin mungil di jari manis tangan kiriku. Aku melepasnya untuk melihat sebuah nama di balik cincin itu.
"Jadi ketemu Ricky hari ini, Queeny sayang?" tanya Cantika, teman satu profesiku, sambil melihat cincin yang kupegang itu.
Aku tersenyum senang. "Sesuai rencana."
♥♥♥
Sangat sesuai rencana. Aku dan Ricky saat ini berada di sebuah resto paling romantis di kota ini. Ricky tahu aku selalu ingin yang terbaik. Ricky masih sosok yang begitu sempurna seperti lima tahun lalu. Tampan dan kaya. Kurasa kami berdua sangat serasi. Hal itu pula yang membuat Ricky begitu percaya diri berlutut di hadapanku, memohon aku kembali.
Ricky bicara dengan sangat halus ditemani sinar lilin yang menerangi tempat ini. Hanya ada kami berdua serta seorang musisi yang memainkan biolanya dengan handal karena Ricky memesan seisi restoran.
"Aku bahagia, Ky," bisikku di telinganya, membungkuk agar badanku sejajar dengannya.
Kebahagiaanku semakin sempurna ketika Ricky memeluk tubuhku, "Terima kasih kamu mau nerima aku lagi, Ratu."
Senyumku berubah menjadi seringai. "Di bagian mana aku berkata aku mau kembali kepada kamu?"
Ricky melepas pelukannya dengan mata terbelalak. "Maksud kamu?"
"Aku bahagia karena rencanaku selama lima tahun berakhir sempurna." Aku melepas cincinku lagi, memain-mainkannya dengan jari-jariku tepat di hadapan wajah Ricky. "Ini cincin yang kamu kasih lima tahun lalu. Tetap kupakai meski kamu sudah membuangku satu minggu setelah kamu bilang kamu menerima cintaku, dua hari setelah kamu memberiku cincin murahan ini."
Wajah Ricky berubah pucat pasi dan sekujur tubuhnya gemetar terbakar emosi.
"Dulu aku yang begitu mengejarmu. Sampai akhirnya aku tahu aku hanya gadis kampung bodoh dan jelek yang kamu jadikan bahan taruhan dengan temanmu. Cincin ini ternyata bukan tanda cinta, melainkan alat agar kau bisa meniduriku lalu pergi. Ini rencanaku. Tetap memakai cincin ini agar kamu yakin bahwa aku masih mengharapkanmu, lalu membuatmu berlutut di hadapanku seperti yang aku lakukan untukmu dulu."
Aku bangkit, Ricky masih membeku di atas lututnya. Aku jatuhkan cincin bertuliskan namanya itu ke lantai tepat di hadapannya.
"Inilah aku, tanpamu. Kepergian kamu membuatku belajar menjadi aku yang sekarang. Aku bukan boneka bodohmu lagi."
Aku meninggalkan Ricky. Tidak ada lagi. Tidak ada lagi lelaki yang berhak menyentuhku. Aku berhasil, Sayang. Kusentuh lembut tattoo kecil di pergelangan tangan kiriku bertuliskan 'Cantika.' Aku mengeluarkan iPod-ku dari dalam tas. Kudengar lagi lagu yang selalu mengingatkanku pada Ricky untuk terakhir kalinya. Alicia Keys - Karma.
[THE END]
Bandung, 20 Januari 2012
#15HariNgeblogFF #Day9
Terimakasih sudah membaca. Tinggalkan komentar juga, ya. ;)
Friday, January 20, 2012
Thursday, January 19, 2012
Aku Benci Kamu Hari Ini..
Picture: weheartit
♥ Day 30..
Aku benci kamu hari ini..
Aku harap ini hari terakhir aku menyumpah dengan mulut tertutup rapat. Karena seingatku sudah setiap hari dalam satu bulan terakhir aku berucap seperti itu. Iya, setiap hari. Berarti bukan hari ini saja aku membencimu. Sudah banyak hari berganti. Satu bulan, tiga puluh hari, tujuh ratus dua puluh jam, aku membencimu.
Setiap hari aku hanya bisa duduk menunggu kabarmu, melihat layar ponselku setiap lima menit sekali, memastikan telinga ini tidak tuli, tidak mendengar ringtone ponselku sendiri, saking kosongnya pikiranku. Kosong? Ah, mana mungkin pikiranku kosong? Setiap detik kamu menjadi syair di otakku.
Dulu kamu bilang hanya aku yang bisa membuatmu tertawa, tapi aku tahu belakangan ini kamu tertawa-tawa di sana, bukan karenaku. Memiliki teman-teman yang lebih menyenangkan daripada aku yang menjengkelkan ini.
♥ Day 31..
Aku benci kamu hari ini..
Aku harap kemarin akan jadi hari terakhir aku berkata demikian dengan beberapa tetes air mata sebagai hidangan pelengkap kebencianku. Tapi, ternyata bukan. Hari ini aku masih membencimu sama seperti kemarin. Satu bulan, tiga puluh satu hari, tujuh ratus empat puluh empat jam, aku membencimu.
Kamu bilang hari ini kamu akan menemuiku, menjadi obat atas kerinduanku yang kupandang mulai usang berdebu, termakan karat, bahkan mulai ditumbuhi jamur dan sedikit lumut. ‘Aku tidak jadi datang hari ini..’ tulismu dalam bentuk pesan singkat ketika aku sudah bersiap di muka pintu rumahku. Menyambutmu dengan riasan terbaikku. Memoles wajahku hampir satu jam di depan cermin muram yang kini menertawakanku dari balik dinding kamar. Terdiam sangat lama di depan lemari pakaian, memilih sandang tercantik hanya untuk terlihat ayu di matamu. Aku sudah siap menyambutmu, tapi kamu tak datang dengan alasan yang sama.
♥ Day 32..
Aku benci kamu hari ini..
Dan aku benci diriku hari ini..
Sama seperti hari-hari sebelumnya.
Aku benci menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang perempuan yang penuh kepalsuan. Sudah kubilang berjuta-juta kali, aku benci kamu, Gilang. Sejak kita lulus SMA dan diterima di universitas yang berbeda, kamu semakin jauh dariku, sedikit melupakanku yang selalu kamu manjakan dulu. Kita menjadi jauh. Aku tahu ini bukan salahmu. Hanya aku yang terlalu pencemburu. Atas dasar itu pula aku sangat membenci diriku sendiri. Mengapa aku begitu pintar bersandiwara? Berkata benci di dalam hati, namun yang terucap hanya…
“Aku sayang kamu, Lang. Terima kasih untuk hari ini.”
“Aku juga sayang kamu, Kanditha. Terima kasih karena kamu bisa ngerti kesibukan aku di kampus selama ini.”
[THE END]
Bandung, 19 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day8
Terima kasih udah baca.. \(n,n)/ FYI, I ♥ comments. ;)
♥ Day 30..
Aku benci kamu hari ini..
Aku harap ini hari terakhir aku menyumpah dengan mulut tertutup rapat. Karena seingatku sudah setiap hari dalam satu bulan terakhir aku berucap seperti itu. Iya, setiap hari. Berarti bukan hari ini saja aku membencimu. Sudah banyak hari berganti. Satu bulan, tiga puluh hari, tujuh ratus dua puluh jam, aku membencimu.
Setiap hari aku hanya bisa duduk menunggu kabarmu, melihat layar ponselku setiap lima menit sekali, memastikan telinga ini tidak tuli, tidak mendengar ringtone ponselku sendiri, saking kosongnya pikiranku. Kosong? Ah, mana mungkin pikiranku kosong? Setiap detik kamu menjadi syair di otakku.
Dulu kamu bilang hanya aku yang bisa membuatmu tertawa, tapi aku tahu belakangan ini kamu tertawa-tawa di sana, bukan karenaku. Memiliki teman-teman yang lebih menyenangkan daripada aku yang menjengkelkan ini.
♥ Day 31..
Aku benci kamu hari ini..
Aku harap kemarin akan jadi hari terakhir aku berkata demikian dengan beberapa tetes air mata sebagai hidangan pelengkap kebencianku. Tapi, ternyata bukan. Hari ini aku masih membencimu sama seperti kemarin. Satu bulan, tiga puluh satu hari, tujuh ratus empat puluh empat jam, aku membencimu.
Kamu bilang hari ini kamu akan menemuiku, menjadi obat atas kerinduanku yang kupandang mulai usang berdebu, termakan karat, bahkan mulai ditumbuhi jamur dan sedikit lumut. ‘Aku tidak jadi datang hari ini..’ tulismu dalam bentuk pesan singkat ketika aku sudah bersiap di muka pintu rumahku. Menyambutmu dengan riasan terbaikku. Memoles wajahku hampir satu jam di depan cermin muram yang kini menertawakanku dari balik dinding kamar. Terdiam sangat lama di depan lemari pakaian, memilih sandang tercantik hanya untuk terlihat ayu di matamu. Aku sudah siap menyambutmu, tapi kamu tak datang dengan alasan yang sama.
♥ Day 32..
Aku benci kamu hari ini..
Dan aku benci diriku hari ini..
Sama seperti hari-hari sebelumnya.
Aku benci menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang perempuan yang penuh kepalsuan. Sudah kubilang berjuta-juta kali, aku benci kamu, Gilang. Sejak kita lulus SMA dan diterima di universitas yang berbeda, kamu semakin jauh dariku, sedikit melupakanku yang selalu kamu manjakan dulu. Kita menjadi jauh. Aku tahu ini bukan salahmu. Hanya aku yang terlalu pencemburu. Atas dasar itu pula aku sangat membenci diriku sendiri. Mengapa aku begitu pintar bersandiwara? Berkata benci di dalam hati, namun yang terucap hanya…
“Aku sayang kamu, Lang. Terima kasih untuk hari ini.”
“Aku juga sayang kamu, Kanditha. Terima kasih karena kamu bisa ngerti kesibukan aku di kampus selama ini.”
[THE END]
Bandung, 19 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day8
Terima kasih udah baca.. \(n,n)/ FYI, I ♥ comments. ;)
Tuesday, January 17, 2012
Ada Dia di Matamu.
Picture: weheartit
Bosan membidik setiap ruas pemandangan yang terhampar di hadapanku, kucari sosok Dega melalui viewfinder kamera DSLR-ku. Bukankah memang Dega yang menjadi tujuanku mengeluarkan kameraku? Bodoh, Dega lebih indah dari objek manapun yang pernah kubidik
Aku menemukannya, tiga langkah di sampingku. Semburat cahaya pagi ikut mengagumi wajahnya. Kulihat matanya tertuju ke bawah, seolah mengamati hilir-mudik kendaraan di sana, jalan raya yang cukup padat, bising, dan bau asap knalpot, padahal aku tahu tatapannya kosong belaka.
Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Lima..
Terus kuabadikan wajah yang hanya terlihat satu sisinya saja itu. Lima foto, satu ekspresi, sama. Apa Dega baru saja mati berdiri? Takut ketinggian karena berdiri di balkon apartemen baruku yang ada di lantai 8 ini? Aku melangkah mendekatinya. Dega masih membatu.
"Pergilah."
Akhirnya detak jantung dan denyut nadi Dega seolah kembali ke dalam tubuh matinya. Ia menoleh ke arahku kemudian memasang tatapan 'sejak kapan kamu berdiri di sampingku?' "Ap—apa, Grid?"
"Aku yakin kamu denger."
"Pergi?"
Aku tak yakin apa aku harus mengulangnya. Jujur aku tak mau Dega pergi sementara aku tahu Dega bukan tipikal pacar yang bisa mengerti apa yang aku mau jika tak kukatakan. Jika kubilang 'pergi' Dega pasti pergi. Buatnya, aku tak lebih penting dari dia, dia yang kulihat dalam binar matanya saat ini.
Dega meletakkan tangan kanannya di kepalaku. Perlahan ia usap rambutku yang bergelombang. Aku enggan menatap mata hitamnya. Aku tahu itu hanya akan membuatku kesulitan berkata-kata.
"Kamu enggak di sini. Buat apa tetap di sini?"
"Enggak gitu, Inggrid. Aku mau sama kamu."
"Ada dia di matamu." gumamku lirih.
"Dia? Siapa?"
"Bukan pertama kalinya kita bicara tentang dia. Alasan kamu lebih betah di kantor daripada sama aku. Aku baru pindah ke apartemen baru, Ga. Aku mau ngerayainnya satu hari aja sama kamu."
Dega menunduk. Tangan kanannya kini meraih tanganku, mencium jari-jari kecilku yang terasa hangat ketika tersentuh bibirnya. "I love you."
"Kamu selalu bilang gitu dalam keadaan seperti ini. What do you want me to say? I love you too? I'm broken."
Seketika jantungku terasa dihujam setelah berhasil mengucapkan kata terakhir dengan nafas yang hampir terputus emosi. Dega, nyawanya seolah pergi lagi. Diam, dingin.
Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik.. Empat detik.. Lima detik..
"Satu jam lagi aku balik ke sini ya."
Setelah dihujam, kini jantungku dibom atom menjadi debu. Apa kubilang, Dega tak mengerti hati perempuannya. Aku bingung harus berkata apa. Inikah perempuan? Selalu mengatakan kebohongan. Berkata 'pergi' meski hati berkata 'tinggallah di sini.'
Kebohongan besar hari ini baru saja terjadi. Aku mengangguk.
Dega tersenyum. Senyum pertamanya hari ini. Dia. Dia lebih lihai dalam hal melukis senyum di wajah Dega daripada aku.
"Aku pasti kembali," katanya lalu mengecup keningku dan pergi.
Kalimat itu sangat familiar karena selalu ia ucapkan sebelum meninggalkanku dan berujung pada ingkar. Dega takkan kembali hari ini. Kulihat lagi foto-foto Dega yang kubidik tadi ketika satu-satunya temanku hanyalah kesendirian.
"Ada DIA di matamu." Air mataku perlahan menetes. Setelah tiga minggu tak bertemu Dega, apa hanya ini waktu yang ia miliki?
Kamu. Seandainya saja Dega bukan cinta matiku, takkan kubiarkan aku dinomorduakan karenamu, UANG!!!
Bandung, 17 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day6
Enjoy! I appreciate ur comment. ;)
Bosan membidik setiap ruas pemandangan yang terhampar di hadapanku, kucari sosok Dega melalui viewfinder kamera DSLR-ku. Bukankah memang Dega yang menjadi tujuanku mengeluarkan kameraku? Bodoh, Dega lebih indah dari objek manapun yang pernah kubidik
Aku menemukannya, tiga langkah di sampingku. Semburat cahaya pagi ikut mengagumi wajahnya. Kulihat matanya tertuju ke bawah, seolah mengamati hilir-mudik kendaraan di sana, jalan raya yang cukup padat, bising, dan bau asap knalpot, padahal aku tahu tatapannya kosong belaka.
Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Lima..
Terus kuabadikan wajah yang hanya terlihat satu sisinya saja itu. Lima foto, satu ekspresi, sama. Apa Dega baru saja mati berdiri? Takut ketinggian karena berdiri di balkon apartemen baruku yang ada di lantai 8 ini? Aku melangkah mendekatinya. Dega masih membatu.
"Pergilah."
Akhirnya detak jantung dan denyut nadi Dega seolah kembali ke dalam tubuh matinya. Ia menoleh ke arahku kemudian memasang tatapan 'sejak kapan kamu berdiri di sampingku?' "Ap—apa, Grid?"
"Aku yakin kamu denger."
"Pergi?"
Aku tak yakin apa aku harus mengulangnya. Jujur aku tak mau Dega pergi sementara aku tahu Dega bukan tipikal pacar yang bisa mengerti apa yang aku mau jika tak kukatakan. Jika kubilang 'pergi' Dega pasti pergi. Buatnya, aku tak lebih penting dari dia, dia yang kulihat dalam binar matanya saat ini.
Dega meletakkan tangan kanannya di kepalaku. Perlahan ia usap rambutku yang bergelombang. Aku enggan menatap mata hitamnya. Aku tahu itu hanya akan membuatku kesulitan berkata-kata.
"Kamu enggak di sini. Buat apa tetap di sini?"
"Enggak gitu, Inggrid. Aku mau sama kamu."
"Ada dia di matamu." gumamku lirih.
"Dia? Siapa?"
"Bukan pertama kalinya kita bicara tentang dia. Alasan kamu lebih betah di kantor daripada sama aku. Aku baru pindah ke apartemen baru, Ga. Aku mau ngerayainnya satu hari aja sama kamu."
Dega menunduk. Tangan kanannya kini meraih tanganku, mencium jari-jari kecilku yang terasa hangat ketika tersentuh bibirnya. "I love you."
"Kamu selalu bilang gitu dalam keadaan seperti ini. What do you want me to say? I love you too? I'm broken."
Seketika jantungku terasa dihujam setelah berhasil mengucapkan kata terakhir dengan nafas yang hampir terputus emosi. Dega, nyawanya seolah pergi lagi. Diam, dingin.
Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik.. Empat detik.. Lima detik..
"Satu jam lagi aku balik ke sini ya."
Setelah dihujam, kini jantungku dibom atom menjadi debu. Apa kubilang, Dega tak mengerti hati perempuannya. Aku bingung harus berkata apa. Inikah perempuan? Selalu mengatakan kebohongan. Berkata 'pergi' meski hati berkata 'tinggallah di sini.'
Kebohongan besar hari ini baru saja terjadi. Aku mengangguk.
Dega tersenyum. Senyum pertamanya hari ini. Dia. Dia lebih lihai dalam hal melukis senyum di wajah Dega daripada aku.
"Aku pasti kembali," katanya lalu mengecup keningku dan pergi.
Kalimat itu sangat familiar karena selalu ia ucapkan sebelum meninggalkanku dan berujung pada ingkar. Dega takkan kembali hari ini. Kulihat lagi foto-foto Dega yang kubidik tadi ketika satu-satunya temanku hanyalah kesendirian.
"Ada DIA di matamu." Air mataku perlahan menetes. Setelah tiga minggu tak bertemu Dega, apa hanya ini waktu yang ia miliki?
Kamu. Seandainya saja Dega bukan cinta matiku, takkan kubiarkan aku dinomorduakan karenamu, UANG!!!
Bandung, 17 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day6
Enjoy! I appreciate ur comment. ;)
Monday, January 16, 2012
"Jadilah milikku, mau?"
Kota yang diselimuti embun dingin ini masih setengah gelap. Setelah mendung semalaman, hujan baru tiba menyentuh kulit bumi lima belas menit yang lalu. Mungkin matahari sudah mengintip di ujung sana, namun awan gelap seolah menghalanginya agar tidak melihat kejadian tragis yang baru saja terjadi. Polisi berada di kerumunan paling depan. Penduduk sekitar yang bahkan belum menyentuh kamar mandi pagi ini sudah berkerumun dengan pakaian tidur masing-masing, membentuk sedikit lautan payung berwarna-warni.
Aku melihat sekitar. Benar saja, hanya aku dan Julian yang berpakaian rapi sehabis pesta tadi malam. Kuayun kakiku yang berhiaskan pumps shoes berwarna merah itu. Warna kesukaan Julian. Tangan kanannya menggenggam erat tanganku yang begitu dingin semantara tangan kirinya menaungi tubuh kami dengan payung berwarna hitam. Aku menolak untuk melihat lebih dekat apa yang ada di sana, tapi Julian memaksaku.
"Semua akan baik-baik saja, Tisya," bisik Julian meyakinkanku.
Kami kembali berjalan menembus kerumunan, berusaha melihat apa yang terjadi dengan lebih dekat lagi. Setibanya di depan, aku terdiam sesaat. Begitu malang nasib tubuh-tubuh tak bernyawa itu. Aku mendengar percakapan orang-orang disekitarku. Mereka melompat dari atap gedung setinggi 30 lantai di hadapan kami ini. Usia mereka sekitar 22-24 tahun. Masih sangat muda.
"Boleh aku mendekat?" tanyaku pada Julian. Kini aku justru penasaran.
Julian tak menjawab. Ia langsung menarik tanganku untuk melangkah lebih dekat. Polisi yang ada di sana tak menghalangi kami seperti mereka menghalangi yang lain. Darah yang bercampur dengan air hujan berceceran dimana-mana. Aku tak peduli kini sepatuku berlapiskan darah segar, aku terus mendekat sampai Julian menghentikan langkahnya. Ia melepaskan tanganku dan merangkulku erat. Angin berhembus kencang meniup gaun pendek hitamku yang senada dengan jas Julian. Terlalu muda. Tragis.
"Ayo." Julian membawaku keluar lagi dari kerumunan.
Hujan semakin deras. Kami terus melangkah menjauh. Tiba-tiba saja Julian menghentikan langkahnya kembali. Aku menatap matanya dalam-dalam. Kami berdiri berhadapan.
"Apa kamu mencintai aku?"
Aku mengangkat kedua ujung bibirku yang masih tertutup sempurna oleh lipstik merah menyala lalu mengangguk perlahan.
"Biarpun orang tua kamu enggak setuju sama hubungan kita?"
"Iya," jawabku yakin.
"Jadilah milikku, mau?" Ulang Julian.
Aku begitu bahagia mendengar Julian mengulangnya. Iya, Julian mengulang kalimat yang ia ucapkan tadi malam, sebelum akhirnya kami menutup pesta terakhir kami di atap gedung setinggi 30 lantai itu dengan melompat bersama.
Bandung, 16 Januari 2012..
#15HariNgeblogFF #Day5
Please, leave your comment.. :)
Sunday, January 15, 2012
Aku Maunya Kamu Titik!
Pic: weheartit
Nuno mengangkat lengan kemeja hitamnya sampai siku. "Where do you wanna go, Miss? Jam berapa ini?" Ia menghentakkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya di atas jam tangan yang bertengger di tangan lainnya.
Alana menghentikan langkahnya yang baru sepuluh langkah diayun menjauh dari Nuno, membalikkan badannya cepat sehingga rambutnya yang panjang terurai langsung terkibas. Ditatapnya dengan tajam wajah meremehkan yang dipasang Nuno di ujung sana, menyeringai bagai iblis sambil duduk di atas kap mobil sedan hitam mengilapnya. Tidak ada mobil yang berlalu-lalang lagi di jalan layang ini. Hanya mereka dan lampu-lampu kuning keemasan di sepanjang jalan.
"Kenapa? Takut? Ini jam dua pagi, Nona! Sok jagoan!"
"I'm not scared! Lo sendiri ngapain masih di situ? Takut gue celaka kalau lo tinggalin sendirian?" Ekspresi Alana tak kalah meremehkan Nuno.
Nuno tertawa, melipat kedua tangannya di depan dada. "You wish! Enggak usah sok kecantikan! Cewek jadi-jadian macam lo, gue jalan sampai perempatan juga dapet!" Nuno mengamati cara berpakaian Alana. Kaus hitam polos dilapisi kemeja kotak-kotak merah yang sengaja tidak dikancingkan, celana jeans panjang yang sobek-sobek, dan sepatu converse putih lusuhnya.
Alana kembali mendekati Nuno. "Dari awal ketemu lo! Gue udah bilang gue benci sama lo! Hobi lo cuma ngegangguin cewek!"
Nuno turun dari kap mobilnya dan berdiri berhadapan dengan Alana. Tinggi badan Alana yang 170cm hanya setinggi hidung Nuno. "Lo cewek? Cewek macam apa lo? Enggak lolos uji pasar!" Nuno mengangkat kerah kemeja Alana singkat.
"Lo bener-bener cowok paling brengsek yang pernah ada. Mau lo apa? Lo sama sekali enggak worth it jadi orang yang bisa gue ajak ribut! Enggak guna!"
"Kenapa lo yang nanya? Lo!! Mau lo apa?!" Nuno menunjuk wajah Alana dengan kasar.
"PERGI!!!" Ditendangnya bumper mobil Nuno. "Jangan ganggu hidup gue lagi!! Pergi sama cewek-cewek yang kagum sama lo yang ganteng! Tajir! Sukses!!"
"TUTUP MULUT LO!! GUE ENGGAK SUKA LO NGUNGKIT CEWEK-CEWEK TADI!"
"ITU KENYATAANNYA!!"
"DENGER YA, CEWEK SILUMAN! MAU PARIS HILTON, ANGELINA JOLIE, ATAU SIAPAPUN YANG DATANG DAN NGEMIS CINTA GUE, GUE MAUNYA LO!! TITIK!!!"
Belum sempat Alana membalas kalimat Nuno, Nuno sudah menarik tangan kiri Alana cepat dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Alana dengan lembut. Alana bak terbius sehingga hanya bisa diam, kembali menjadi sosoknya yang begitu lembut sebagai seorang perempuan. Tak lama Nuno melepaskan ciumannya.
"Aku maunya kamu!" bisiknya perlahan di telinga Alana. "Sudah tujuh tahun aku kenal kamu, lima tahun kita tunangan. You know all my friends and I know yours. Kalau aku enggak ngenalin mereka ke kamu, it means that they never really exist in my life. Biarpun kamu siluman yang paling galak yang bisa maki-maki aku, cewek jadi-jadian yang enggak bisa feminin, aku maunya kamu titik!" ulangnya lagi dan lagi.
Nuno menenggelamkan emosi Alana ke dalam pelukannya. Alana tahu, meski setiap hari mereka bertengkar, mereka saling mencintai satu sama lain. Nuno melihat cincin pertunangannya dengan Alana di jari manis tangan kirinya dan tersenyum bahagia. Meskipun satu minggu lagi mereka menikah, bertengkar masih saja menjadi hobi mereka.
[THE END]
Bandung, 15 Januari 2012
#15HariNgeblogFF #Day4
Nuno mengangkat lengan kemeja hitamnya sampai siku. "Where do you wanna go, Miss? Jam berapa ini?" Ia menghentakkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya di atas jam tangan yang bertengger di tangan lainnya.
Alana menghentikan langkahnya yang baru sepuluh langkah diayun menjauh dari Nuno, membalikkan badannya cepat sehingga rambutnya yang panjang terurai langsung terkibas. Ditatapnya dengan tajam wajah meremehkan yang dipasang Nuno di ujung sana, menyeringai bagai iblis sambil duduk di atas kap mobil sedan hitam mengilapnya. Tidak ada mobil yang berlalu-lalang lagi di jalan layang ini. Hanya mereka dan lampu-lampu kuning keemasan di sepanjang jalan.
"Kenapa? Takut? Ini jam dua pagi, Nona! Sok jagoan!"
"I'm not scared! Lo sendiri ngapain masih di situ? Takut gue celaka kalau lo tinggalin sendirian?" Ekspresi Alana tak kalah meremehkan Nuno.
Nuno tertawa, melipat kedua tangannya di depan dada. "You wish! Enggak usah sok kecantikan! Cewek jadi-jadian macam lo, gue jalan sampai perempatan juga dapet!" Nuno mengamati cara berpakaian Alana. Kaus hitam polos dilapisi kemeja kotak-kotak merah yang sengaja tidak dikancingkan, celana jeans panjang yang sobek-sobek, dan sepatu converse putih lusuhnya.
Alana kembali mendekati Nuno. "Dari awal ketemu lo! Gue udah bilang gue benci sama lo! Hobi lo cuma ngegangguin cewek!"
Nuno turun dari kap mobilnya dan berdiri berhadapan dengan Alana. Tinggi badan Alana yang 170cm hanya setinggi hidung Nuno. "Lo cewek? Cewek macam apa lo? Enggak lolos uji pasar!" Nuno mengangkat kerah kemeja Alana singkat.
"Lo bener-bener cowok paling brengsek yang pernah ada. Mau lo apa? Lo sama sekali enggak worth it jadi orang yang bisa gue ajak ribut! Enggak guna!"
"Kenapa lo yang nanya? Lo!! Mau lo apa?!" Nuno menunjuk wajah Alana dengan kasar.
"PERGI!!!" Ditendangnya bumper mobil Nuno. "Jangan ganggu hidup gue lagi!! Pergi sama cewek-cewek yang kagum sama lo yang ganteng! Tajir! Sukses!!"
"TUTUP MULUT LO!! GUE ENGGAK SUKA LO NGUNGKIT CEWEK-CEWEK TADI!"
"ITU KENYATAANNYA!!"
"DENGER YA, CEWEK SILUMAN! MAU PARIS HILTON, ANGELINA JOLIE, ATAU SIAPAPUN YANG DATANG DAN NGEMIS CINTA GUE, GUE MAUNYA LO!! TITIK!!!"
Belum sempat Alana membalas kalimat Nuno, Nuno sudah menarik tangan kiri Alana cepat dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Alana dengan lembut. Alana bak terbius sehingga hanya bisa diam, kembali menjadi sosoknya yang begitu lembut sebagai seorang perempuan. Tak lama Nuno melepaskan ciumannya.
"Aku maunya kamu!" bisiknya perlahan di telinga Alana. "Sudah tujuh tahun aku kenal kamu, lima tahun kita tunangan. You know all my friends and I know yours. Kalau aku enggak ngenalin mereka ke kamu, it means that they never really exist in my life. Biarpun kamu siluman yang paling galak yang bisa maki-maki aku, cewek jadi-jadian yang enggak bisa feminin, aku maunya kamu titik!" ulangnya lagi dan lagi.
Nuno menenggelamkan emosi Alana ke dalam pelukannya. Alana tahu, meski setiap hari mereka bertengkar, mereka saling mencintai satu sama lain. Nuno melihat cincin pertunangannya dengan Alana di jari manis tangan kirinya dan tersenyum bahagia. Meskipun satu minggu lagi mereka menikah, bertengkar masih saja menjadi hobi mereka.
[THE END]
Bandung, 15 Januari 2012
#15HariNgeblogFF #Day4
Saturday, January 14, 2012
"Kamu manis," kataku..
AKU melihat sekeping bagian dari surga ketika mata ini terbuka. Aku menyipitkan mataku yang belum dapat beradaptasi dengan cahaya pagi di kamarku. Ryan di sana, menjadi hal pertama yang kulihat pagi ini. Aku tersenyum bahagia. Betapa indahnya setiap pagiku semenjak ada ia. Semenjak malam pertama ia ada di sini satu minggu yang lalu, di kamar yang sama denganku, ia selalu menyambutku dengan senyumnya ketika mataku terbuka di pagi hari. Bahkan senyumnya pula yang menjadi alasan aku bermimpi indah setiap malam.
Sejak pertama melihatnya, senyumnyalah yang menjadi alasanku begitu memujanya. Aku takkan bosan. Kurasa tak akan ada senyum yang lebih indah dari senyum yang ia miliki. Bahagianya kini aku bisa melihatnya setiap hari, sepanjang hari, tersenyum.
Aku bangkit dari tempat tidur sambil meregangkan kedua tanganku. Aku terdiam sejenak di hadapannya, terhipnotis oleh senyum manisnya yang masih terbentuk indah memperlihatkan barisan gigi yang putih dan rapi. Kupandang lagi sepasang mata cokelatnya. Mata kanannya sedikit tertutup anak rambutnya yang juga berwarna kecokelatan, berbeda dengan rambutku yang hitam pekat. Mataku berbinar menatapnya sambil tak kuasa menahan keinginan untuk membalas senyumannya itu.
“Kamu manis,” kataku. Kalimat yang sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Karena Ryan memang manis.
Lagi-lagi ia hanya tersenyum. Aku sudah cukup senang meski ia tak merespons lebih dari itu, sama seperti biasanya. Kuanggap senyumnya adalah tanda bahwa ia tahu betapa menakjubkannya senyum itu bagiku.
“Aku harus mandi, lalu bersiap pergi ke sekolah. Tunggu aku pulang, ya! Aku akan merindukanmu.” Kuusap poster di dinding kamarku itu. Aku tertawa singkat memandang poster idolaku yang baru kubeli satu minggu lalu itu kemudian beranjak ke kamar mandi, mengabaikan senyumnya sejenak. Ah, senyum Ryan Ross begitu melekat di otakku.
[THE END]
Dedicated to my idol Ryan Ross (ex- Panic! At the Disco.) ;)
#15HariNgeblogFF #Day3
Sejak pertama melihatnya, senyumnyalah yang menjadi alasanku begitu memujanya. Aku takkan bosan. Kurasa tak akan ada senyum yang lebih indah dari senyum yang ia miliki. Bahagianya kini aku bisa melihatnya setiap hari, sepanjang hari, tersenyum.
Aku bangkit dari tempat tidur sambil meregangkan kedua tanganku. Aku terdiam sejenak di hadapannya, terhipnotis oleh senyum manisnya yang masih terbentuk indah memperlihatkan barisan gigi yang putih dan rapi. Kupandang lagi sepasang mata cokelatnya. Mata kanannya sedikit tertutup anak rambutnya yang juga berwarna kecokelatan, berbeda dengan rambutku yang hitam pekat. Mataku berbinar menatapnya sambil tak kuasa menahan keinginan untuk membalas senyumannya itu.
“Kamu manis,” kataku. Kalimat yang sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Karena Ryan memang manis.
Lagi-lagi ia hanya tersenyum. Aku sudah cukup senang meski ia tak merespons lebih dari itu, sama seperti biasanya. Kuanggap senyumnya adalah tanda bahwa ia tahu betapa menakjubkannya senyum itu bagiku.
“Aku harus mandi, lalu bersiap pergi ke sekolah. Tunggu aku pulang, ya! Aku akan merindukanmu.” Kuusap poster di dinding kamarku itu. Aku tertawa singkat memandang poster idolaku yang baru kubeli satu minggu lalu itu kemudian beranjak ke kamar mandi, mengabaikan senyumnya sejenak. Ah, senyum Ryan Ross begitu melekat di otakku.
[THE END]
Dedicated to my idol Ryan Ross (ex- Panic! At the Disco.) ;)
#15HariNgeblogFF #Day3
Dag.. Dig.. Dug..
Dag.. Dig.. Dug..
KURASAKAN detak jantungku tak normal. Sudah empat tahun berlalu, namun perasaanku selalu sama setiap melihatnya ada di depan pintu rumah dari balkon kamarku. Hati ini selalu berdebar setiap melihatnya berdiri di sana dengan sekotak cokelat atau bunga mawar putih favoritku. Betapa sempurna ia menjadi seorang lelaki. Santun, pintar, baik, dan begitu romantis. Di usianya yang baru menginjak 24 tahun ia juga terbilang sudah begitu mapan, memiliki rumah dan mobil sendiri.
Ia selalu senyum sumringah menanti seseorang membukakan pintu untuknya. Aku tak pernah berlari cepat untuk menyambutnya di depan pintu, membiarkan diriku menjadi orang pertama yang menyambutnya, menyuguhkan senyum termanisku. Aku lebih suka melihatnya dari sini. Empat tahun pula dia tak pernah menyadari bahwa aku selalu mengamati kedatangannya dari sini.
Aku menyusun kedua telapak tanganku di atas dada. Merasakan detak jantung yang masih sama. Empat tahun tak memudarkan semuanya. Daryl tetap lelaki yang aku cinta meskipun banyak lelaki lain yang telah mengetuk pintu itu dan meminta hatiku. Membawakan berkuntum bunga yang lebih banyak dari yang pernah Daryl bawa di belakang punggungnya. Bahkan, membawa cinta yang lebih besar dari apa yang bisa Daryl berikan.
“Aku tak mau yang lain. Aku mau kamu saja, Ryl,” ucapku seolah Daryl mampu mendengarnya.
“Ini tidak benar, Ras. Kamu tahu itu.” Aira, sahabatku, menepuk punggungku perlahan.
“Aku tahu.” Kuletakkan kedua tanganku lebih dalam di atas dadaku. Debar jantungku semakin terasa kencang. Aku masih berdiri dan melihat Daryl di depan pintu rumahku.
“Lantas?”
Dag.. Dig.. Dug..
“Detak jantungku setiap melihatnya ini adalah alasan mengapa aku ingin mempertahankan perasaan itu.” Aku tersenyum. Aira tak dapat berkata apa-apa lagi. Mungkin ia sudah lelah menyadarkanku. Tak perlu disadarkan, aku tahu.
Pintu rumah terbuka. Senyum Daryl makin mengembang.
“Selamat pagi, Ras.” Daryl mengeluarkan sebuket bunga mawar putih itu dari balik punggungnya.
Empat tahun sudah aku menyaksikan kejadian yang hampir sama. Aku yang menyukai mawar putih itu, tapi bunga itu bukan untukku. Aku yang menyukai senyum itu, tapi senyumnya bukan untukku. Bukan aku alasan Daryl berdiri di depan pintu rumahku, tersenyum, dan menunggu.
Maafkan aku, Ras. Aku mencintai tunanganmu. Maafkan aku juga karena aku begitu membenci kenyataan bahwa Daryl lebih dulu bertemu denganmu, bukan aku. Seandainya itu terjadi, aku yakin Daryl juga bisa mencintaiku sebesar rasa cintanya padamu. Karena wajah kita begitu serupa.
Mengapa harus Laras, Ryl? Mengapa bukan Saras? Aku? Mengapa harus saudari kembarku?
[THE END]
#15HariNgeblogFF #Day2
Lagi, ini migrasi gue dari tumblr. (13012012) ;)
KURASAKAN detak jantungku tak normal. Sudah empat tahun berlalu, namun perasaanku selalu sama setiap melihatnya ada di depan pintu rumah dari balkon kamarku. Hati ini selalu berdebar setiap melihatnya berdiri di sana dengan sekotak cokelat atau bunga mawar putih favoritku. Betapa sempurna ia menjadi seorang lelaki. Santun, pintar, baik, dan begitu romantis. Di usianya yang baru menginjak 24 tahun ia juga terbilang sudah begitu mapan, memiliki rumah dan mobil sendiri.
Ia selalu senyum sumringah menanti seseorang membukakan pintu untuknya. Aku tak pernah berlari cepat untuk menyambutnya di depan pintu, membiarkan diriku menjadi orang pertama yang menyambutnya, menyuguhkan senyum termanisku. Aku lebih suka melihatnya dari sini. Empat tahun pula dia tak pernah menyadari bahwa aku selalu mengamati kedatangannya dari sini.
Aku menyusun kedua telapak tanganku di atas dada. Merasakan detak jantung yang masih sama. Empat tahun tak memudarkan semuanya. Daryl tetap lelaki yang aku cinta meskipun banyak lelaki lain yang telah mengetuk pintu itu dan meminta hatiku. Membawakan berkuntum bunga yang lebih banyak dari yang pernah Daryl bawa di belakang punggungnya. Bahkan, membawa cinta yang lebih besar dari apa yang bisa Daryl berikan.
“Aku tak mau yang lain. Aku mau kamu saja, Ryl,” ucapku seolah Daryl mampu mendengarnya.
“Ini tidak benar, Ras. Kamu tahu itu.” Aira, sahabatku, menepuk punggungku perlahan.
“Aku tahu.” Kuletakkan kedua tanganku lebih dalam di atas dadaku. Debar jantungku semakin terasa kencang. Aku masih berdiri dan melihat Daryl di depan pintu rumahku.
“Lantas?”
Dag.. Dig.. Dug..
“Detak jantungku setiap melihatnya ini adalah alasan mengapa aku ingin mempertahankan perasaan itu.” Aku tersenyum. Aira tak dapat berkata apa-apa lagi. Mungkin ia sudah lelah menyadarkanku. Tak perlu disadarkan, aku tahu.
Pintu rumah terbuka. Senyum Daryl makin mengembang.
“Selamat pagi, Ras.” Daryl mengeluarkan sebuket bunga mawar putih itu dari balik punggungnya.
Empat tahun sudah aku menyaksikan kejadian yang hampir sama. Aku yang menyukai mawar putih itu, tapi bunga itu bukan untukku. Aku yang menyukai senyum itu, tapi senyumnya bukan untukku. Bukan aku alasan Daryl berdiri di depan pintu rumahku, tersenyum, dan menunggu.
Maafkan aku, Ras. Aku mencintai tunanganmu. Maafkan aku juga karena aku begitu membenci kenyataan bahwa Daryl lebih dulu bertemu denganmu, bukan aku. Seandainya itu terjadi, aku yakin Daryl juga bisa mencintaiku sebesar rasa cintanya padamu. Karena wajah kita begitu serupa.
Mengapa harus Laras, Ryl? Mengapa bukan Saras? Aku? Mengapa harus saudari kembarku?
[THE END]
#15HariNgeblogFF #Day2
Lagi, ini migrasi gue dari tumblr. (13012012) ;)
"Halo, Siapa Namamu?"
WAKTU makan siang selalu kusambut dengan antusias. Sedikit melepas penat dari kesibukanku sebagai akuntan di perusahaan ternama di kota besar ini. Lebih antusias lagi ketika lima minggu yang lalu aku mencoba makan di resto yang tak pernah kudatangi sebelumnya. Di sini, resto yang selalu dipenuhi oleh pegawai kantor di sekitar sini, namun mataku hanya jeli menangkap bayangnya. Ini minggu ke lima aku memerhatikannya dari kejauhan di sela-sela waktu istirahat kerjaku. Setahuku ia tidak bekerja di kantor yang sama denganku.
11.45..
Kuperhatikan lagi cara jalannya memasuki resto siang ini. Begitu anggun seperti biasanya. Sosok gadis penyendiri yang mandiri. Hanya dengan gerak jarinya saja, bak tongkat sihir, ia berhasil menyihir sang pelayan untuk mengambilkan menu favoritnya setiap hari. Selalu sama, sepiring nasi goreng dan iced lemon tea, seolah tak pernah bosan. Tak pernah kulihat ia memesan menu lain.
Ia duduk di meja yang tak jauh dari tempatku dan teman-temanku. Persis di arah jam dua belas.
“Sampai kapan kamu mau menjadi pemuja rahasianya, Zi? Pergi, tanya namanya!”
Bosan aku mendengar tantangan dari teman-temanku. Sejak dua minggu yang lalu mereka telah menyadari kekagumanku padanya.
Sesuai niatku, hari ini aku akan pergi menghampirinya. Aku seorang lelaki yang harus berani menanggung resiko apa pun dalam mendapatkan hati seorang wanita.
Gadis berwajah oriental dengan tinggi sekitar 165 cm itu menunggu menu pesanannya diantar sambil membaca sebuah buku. Setelah menunya datang pun ia menghabiskannya sambil tetap membaca buku. Apa itu sebabnya ia selalu terlihat sendiri? Ia nampak begitu tertarik untuk membaca, sendirian saja.
Aku bangkit saat kulihat ia telah menyelesaikan makan siangnya. Waktu istirahat kantor hampir usai. Kuayunkan langkahku ke arahnya. Setiap langkah, jantungku berdebar semakin kencang.
“Halo, siapa namamu?” ucapku saat sepasang mata hitam yang cantik dengan riasan sederhana menatap ke arahku yang telah berdiri di hadapannya.
Ia diam, tak menjawab, malah kulihat kepanikan di wajahnya. Ia bangkit lalu meninggalkanku yang diam membeku. Sudah kuduga, teman-temanku begitu puas menertawakanku. Baru saja aku mempunyai nyali untuk kembali ke tempat dudukku, menerima cemoohan teman-temanku, seorang pelayan memberiku selembar tissue.
Erika.
Sebuah nama tertulis di sana. Hanya itu. Aku bingung. Mengapa gadis itu hanya menulisnya di tissue ini dan menitipkannya kepada pelayan? Mengapa ia enggan menyebutkannya saja tadi? Kebingunganku terjawab oleh pernyataan sang pelayan.
“Ia seorang tunawicara, Mas.”
[THE END]
This is my FF dalam rangka #15HariNgeblogFF #Day1
p.s: I’m a newbie, so no making fun of me. ;)
Tulisan ini gue "transfer" dari tumblr. (12012012)
11.45..
Kuperhatikan lagi cara jalannya memasuki resto siang ini. Begitu anggun seperti biasanya. Sosok gadis penyendiri yang mandiri. Hanya dengan gerak jarinya saja, bak tongkat sihir, ia berhasil menyihir sang pelayan untuk mengambilkan menu favoritnya setiap hari. Selalu sama, sepiring nasi goreng dan iced lemon tea, seolah tak pernah bosan. Tak pernah kulihat ia memesan menu lain.
Ia duduk di meja yang tak jauh dari tempatku dan teman-temanku. Persis di arah jam dua belas.
“Sampai kapan kamu mau menjadi pemuja rahasianya, Zi? Pergi, tanya namanya!”
Bosan aku mendengar tantangan dari teman-temanku. Sejak dua minggu yang lalu mereka telah menyadari kekagumanku padanya.
Sesuai niatku, hari ini aku akan pergi menghampirinya. Aku seorang lelaki yang harus berani menanggung resiko apa pun dalam mendapatkan hati seorang wanita.
Gadis berwajah oriental dengan tinggi sekitar 165 cm itu menunggu menu pesanannya diantar sambil membaca sebuah buku. Setelah menunya datang pun ia menghabiskannya sambil tetap membaca buku. Apa itu sebabnya ia selalu terlihat sendiri? Ia nampak begitu tertarik untuk membaca, sendirian saja.
Aku bangkit saat kulihat ia telah menyelesaikan makan siangnya. Waktu istirahat kantor hampir usai. Kuayunkan langkahku ke arahnya. Setiap langkah, jantungku berdebar semakin kencang.
“Halo, siapa namamu?” ucapku saat sepasang mata hitam yang cantik dengan riasan sederhana menatap ke arahku yang telah berdiri di hadapannya.
Ia diam, tak menjawab, malah kulihat kepanikan di wajahnya. Ia bangkit lalu meninggalkanku yang diam membeku. Sudah kuduga, teman-temanku begitu puas menertawakanku. Baru saja aku mempunyai nyali untuk kembali ke tempat dudukku, menerima cemoohan teman-temanku, seorang pelayan memberiku selembar tissue.
Erika.
Sebuah nama tertulis di sana. Hanya itu. Aku bingung. Mengapa gadis itu hanya menulisnya di tissue ini dan menitipkannya kepada pelayan? Mengapa ia enggan menyebutkannya saja tadi? Kebingunganku terjawab oleh pernyataan sang pelayan.
“Ia seorang tunawicara, Mas.”
[THE END]
This is my FF dalam rangka #15HariNgeblogFF #Day1
p.s: I’m a newbie, so no making fun of me. ;)
Tulisan ini gue "transfer" dari tumblr. (12012012)
Tuesday, January 10, 2012
wenny the infrequent writer..
MUNGKIN itu predikat yang pas buat gue saat ini ya. Jarang-jarang juga sih gue nulis. Belum bisa dikatakan bahwa gue ini seorang 'Writer'. Sebenernya gue nulis tiap hari sih. Di buku yang ada di bawah bantal gue--gue doyan nulis-nulis asal sebelum tidur. Di twitter/facebook--berupa update status atau tweet-tweet ngaco. XD Di mading jaman kuliah dulu--mantan pengurus mading. Di blog ini juga tentunya. :) Writing itu semacam cara buat mengungkapkan sesuatu yang enggak bisa gue ekspresikan. Enggak butuh partner, gak penting ada yang baca atau enggak, yang penting perasaan gue udah terungkapkan. :)
Beberapa orang udah ngebaca potongan" cerita yang gue tulis di blog ini. Judulnya sementara waktu Hundreds Songs for Danella--SEMENTARA. Masih bisa ganti. ;) Mungkin orang-orang sih lebih akrab nyebutnya "Dala-Ryan" :p Mostly bilang bahwa mereka suka sih. Entah lah ya.. Hehehe.. Mereka bilang gue harus jadi penulis beneran. Nerbitin cerita itu jadi sebuah buku yang bisa dibaca sama orang banyak. *triiiiiiiiiiiing* mendadak gue punya cita-cita baru. "Yesh! You have to be a writer, Nye. REAL writer." Gitu bisik gue dalam hati.
Kesampean gak ya? Mereka bilang gue harus nerbitin cerita Dala-Ryan itu. Tapi, cerita itu kan awalnya imajinasi gue doang yang coba gue tulis. Kalau gue harus nerbitin itu cerita, bukunya bisa kebagi 4 bagian macam Twilight Saga deh kayaknya. >___< Asli. Panjang banget. Jadi sejauh ini gue stuck di situ. Bingung banget bagian mana yang harus di-cut!
Cerita lain sebenernya banyak. Tapi masih berupa softcopy di dalem otak. Hahahahaha. Cerita Soraya-Friza-Lee yang pernah sedikit gue share di sini tuh. Tapi ceritanya masih terlalu labil dan pasaran menurut gue. Harus banyak dirombak. Secara karangan jaman SMP. :p Ada juga cerita yang dulu gue bilang terinspirasi sama tokoh-tokoh kasian macam yang gue tonton di drama Korea. Sekarang gue lagi pengen bikin cerita yang tokoh utamanya seorang bad boy! #aneh. Ada kejar-kejaran, berantem-beranteman, bahkan tembak-tembakan. Ngahahahahaha.. :D Seru kali ya.
Ya, banyak ide belum tentu bisa menghasilkan sesuatu. Tapi gue sedang berusaha untuk itu. Orang lain aja yakin bahwa gue bisa. Kenapa gue enggak? Ya, mungkin itu keterbatasan gue aja sebagai penulis amatir, tapi kalau gue enggak berusaha mencoba, melepaskan diri dari keterbatasan gue, kapan gue bisa melepas gelar 'infrequent' gue toh? ;)
Beberapa orang udah ngebaca potongan" cerita yang gue tulis di blog ini. Judulnya sementara waktu Hundreds Songs for Danella--SEMENTARA. Masih bisa ganti. ;) Mungkin orang-orang sih lebih akrab nyebutnya "Dala-Ryan" :p Mostly bilang bahwa mereka suka sih. Entah lah ya.. Hehehe.. Mereka bilang gue harus jadi penulis beneran. Nerbitin cerita itu jadi sebuah buku yang bisa dibaca sama orang banyak. *triiiiiiiiiiiing* mendadak gue punya cita-cita baru. "Yesh! You have to be a writer, Nye. REAL writer." Gitu bisik gue dalam hati.
Kesampean gak ya? Mereka bilang gue harus nerbitin cerita Dala-Ryan itu. Tapi, cerita itu kan awalnya imajinasi gue doang yang coba gue tulis. Kalau gue harus nerbitin itu cerita, bukunya bisa kebagi 4 bagian macam Twilight Saga deh kayaknya. >___< Asli. Panjang banget. Jadi sejauh ini gue stuck di situ. Bingung banget bagian mana yang harus di-cut!
Cerita lain sebenernya banyak. Tapi masih berupa softcopy di dalem otak. Hahahahaha. Cerita Soraya-Friza-Lee yang pernah sedikit gue share di sini tuh. Tapi ceritanya masih terlalu labil dan pasaran menurut gue. Harus banyak dirombak. Secara karangan jaman SMP. :p Ada juga cerita yang dulu gue bilang terinspirasi sama tokoh-tokoh kasian macam yang gue tonton di drama Korea. Sekarang gue lagi pengen bikin cerita yang tokoh utamanya seorang bad boy! #aneh. Ada kejar-kejaran, berantem-beranteman, bahkan tembak-tembakan. Ngahahahahaha.. :D Seru kali ya.
Ya, banyak ide belum tentu bisa menghasilkan sesuatu. Tapi gue sedang berusaha untuk itu. Orang lain aja yakin bahwa gue bisa. Kenapa gue enggak? Ya, mungkin itu keterbatasan gue aja sebagai penulis amatir, tapi kalau gue enggak berusaha mencoba, melepaskan diri dari keterbatasan gue, kapan gue bisa melepas gelar 'infrequent' gue toh? ;)
Friday, January 06, 2012
something about Ryro..
Kalau udah baca tulisan gue tentang Arian, pasti udah tau dong siapa Ryro. Atau mungkin lo lebih tau tentang Ryro daripada gue. Yup betuuuul! Ryro adalah sapaan akrab buat Ryan Ross. Ex-guitarist-nya Panic! At the Disco. Secara khusus gue mau ngebahas gayanya yang paling gue suka di postingan kali ini. ;) Hihihihi.. Sekali-kali ngebuat tulisan tentang dia. Jangan mention-mention enggak jelas di twitternya doang. *btw, follow him @thisisryanross* >___<
Yang mau gue bahas adalah alasan-alasan kenapa gue suka sama abang Ryro ini. Hehehe. Kenapa gue suka Ryro?
1. Gue nyerah deh kalo ngeliat cowok jago main gitar. Performance Ryan jaman album pertama P!ATD, A Fever You Can't Sweat Out, bikin gue suka banget!
2. Ryro is too cute to be true! #tewas.
3. Ryro keren total kalau udah bermakeup yang aneh-aneh. Nah, yang ketiga tuh yang bikin gue penasaran banget pengen dandan ala dia dan foto-foto. Entahlah, tapi gue suka banget makeup art-nya. Eh, bukan gue doang lho. Banyak banget orang yang terinspirasi sama gaya makeup-nya. Coba aja search di youtube “Ryan Ross Makeup Tutorial” lo bakalan nemu orang-orang yang berusaha dandan nyamain Ryro. ;) Keren kaaaaaaaaan. Ini dia beberapa contoh makeup ala Ryro kesukaan gue...
Keren kan! Gue sukaaaaaa banget dan bahkan obsesi pengen mengabadikan foto gue dengan make-up ala dia. Sayang koleksi kosmetik gue enggak sebanyak itu. XD
4. Kayak apa yang udah gue tulis di postingan gue sebelumnya, Ryro adalah penulis lagu berbakat. Sebagian besar hits P!ATD adalah lagu ciptaan dia. Jadi enggak salah deh gue suka sama Ryro. ;)
Ryro enggak turun dari kahyangan dengan penampilan sekeren di atas lho. #halah! Pertama kemunculan dia bareng P!ATD dia sempat culun berat. Hahahaha. Tapi mungkin itu karena jaman itu emang gaya yang ngetrend ya kayak gitu. Ini nih foto metamorfosis dia dari Jadul-Keren-Jadul lagi. (-__-")
Ya, yang jelas enggak adil kalau kita nilai seseorang dari penampilannya doang. Ryro yang sekarang udah beda dengan Ryro yang doyan make-up-an unik kayak apa yang gue suka berat dulu. Tapi toh seiring kelunturan makeup uniknya, bakat dia enggak ikut luntur. Dia tetap bisa eksis dengan The Young Veins-nya. Lagiaaaaaaaaan. Ryro kelihatan jadul cuma pas dia manggung doang kok. Kesehariannya? Dia masih 'too cute to be true.' ♥♥♥
p.s: dua foto di atas adalah foto terbaru dia yang dia upload melalui twitternya. ;)
Yang mau gue bahas adalah alasan-alasan kenapa gue suka sama abang Ryro ini. Hehehe. Kenapa gue suka Ryro?
1. Gue nyerah deh kalo ngeliat cowok jago main gitar. Performance Ryan jaman album pertama P!ATD, A Fever You Can't Sweat Out, bikin gue suka banget!
2. Ryro is too cute to be true! #tewas.
3. Ryro keren total kalau udah bermakeup yang aneh-aneh. Nah, yang ketiga tuh yang bikin gue penasaran banget pengen dandan ala dia dan foto-foto. Entahlah, tapi gue suka banget makeup art-nya. Eh, bukan gue doang lho. Banyak banget orang yang terinspirasi sama gaya makeup-nya. Coba aja search di youtube “Ryan Ross Makeup Tutorial” lo bakalan nemu orang-orang yang berusaha dandan nyamain Ryro. ;) Keren kaaaaaaaaan. Ini dia beberapa contoh makeup ala Ryro kesukaan gue...
Keren kan! Gue sukaaaaaa banget dan bahkan obsesi pengen mengabadikan foto gue dengan make-up ala dia. Sayang koleksi kosmetik gue enggak sebanyak itu. XD
4. Kayak apa yang udah gue tulis di postingan gue sebelumnya, Ryro adalah penulis lagu berbakat. Sebagian besar hits P!ATD adalah lagu ciptaan dia. Jadi enggak salah deh gue suka sama Ryro. ;)
Ryro enggak turun dari kahyangan dengan penampilan sekeren di atas lho. #halah! Pertama kemunculan dia bareng P!ATD dia sempat culun berat. Hahahaha. Tapi mungkin itu karena jaman itu emang gaya yang ngetrend ya kayak gitu. Ini nih foto metamorfosis dia dari Jadul-Keren-Jadul lagi. (-__-")
Ya, yang jelas enggak adil kalau kita nilai seseorang dari penampilannya doang. Ryro yang sekarang udah beda dengan Ryro yang doyan make-up-an unik kayak apa yang gue suka berat dulu. Tapi toh seiring kelunturan makeup uniknya, bakat dia enggak ikut luntur. Dia tetap bisa eksis dengan The Young Veins-nya. Lagiaaaaaaaaan. Ryro kelihatan jadul cuma pas dia manggung doang kok. Kesehariannya? Dia masih 'too cute to be true.' ♥♥♥
p.s: dua foto di atas adalah foto terbaru dia yang dia upload melalui twitternya. ;)
Subscribe to:
Posts (Atom)

























